Tebengan Blog

Yuk Mengenal Perbedaan Ridesharing dan Ridehailing

Di tengah boomingnya teknologi dan informasi, kini masyarakat mulai mengenal berbagai macam platform berbasis online. Beberapa aplikasi online yang ada di Indonesia menawarkan konsep Sharing Economy. Sharing Economy adalah konsep bisnis yang memberikan akses kepada pemilik sumber daya untuk dikonsumsi atau digunakan oleh orang lain. Sederhananya, dengan konsep ini orang-orang bisa menawarkan tenaga atau barangnya untuk bisa digunakan oleh orang lain dengan imbalan yang sesuai.

Konsep ini sebenarnya tidak asing bagi masyarkat Indonesia. Karena pada kesehariannya masyarakat kita telah menerapkan konsep ini. Sebagai contoh adalah penyewaan kos - kosan, homestay dan jasa transportasi. Khusus jasa transportasi, konsep ini sering disebut juga dengan Ridesharing. Saat ini muncul beberapa aplikasi ridesharing yang menawarkan pemesanan transportasi secara online seperti Gojek, Grab dan Uber. Melalui aplikasi ini, pemilik kendaraan bermotor dapat menawarkan jasanya untuk mengantarkan penumpang ke destinasi tujuan. Operator aplikasi akan bertindak sebagai perantara untuk mencarikan penumpang. Namun, banyak yang menilai bahwa konsep yang ditawarkan Gojek, Grab dan Uber bukanlah konsep ridesharing, tetapi lebih tepat disebut sebagai ride hailing. Sehingga muncul pertanyaan, apa perbedaan antara ridesharing dengan ride hailing?

Ridesharing vs Ridehailing

Secara konsep, ridesharing dan ridehailing memang tidak memiliki perbedaan yang cukup besar. Hal ini dikarenakan memang pemilik kendaraan menawarkan kursi kosong pada orang lain dan menerima imbalan darinya. Namun tetap ada perbedaan yang cukup mendasar. Mari kita ambil studi kasus ojek online. Pertama, pada konsep ridehailing, driver menjadikan kendaraannya sebagai mata pencaharian. Sehingga para pemilik kendaraan berlomba - lomba  untuk dapat mencari penumpang agar mendapatkan pendapatan dan menarik keuntungan. Sebaliknya dalam konsep ridesharing, pemilik kendaraan tidak menjadikanya sebagai mata pencaharian utama. Mereka menawarkan kursi kosong yang ada di kendaraanya untuk menutupi sebagian biaya pemakaian seperti biaya parkir atau bensin. Selain itu, para driver ridesharing hanya melakukan perjalanan di waktu tertentu saja. Sehingga mereka tidak mengejar keuntungan dari kursi kosong yang mereka tawarkan.

Perbedaan kedua ada pada status on demand. Pada konsep ridehailing, terdapat status on demand service untuk penumpang atau customer. Layanan ini memungkinkan customer untuk dapat meminta (order) layanan secara langsung tanpa harus mencari atau menunggu. Sehingga pemilik kendaraan harus siap sedia kapan pun ketika menerima order dari customer. Dengan kata lain, konsep ridehailing lebih berorientasi kepada penumpang. Berbeda halnya dengan ridesharing yang tidak memiliki sistem on demand service. Customer tidak bisa langsung melakukan order secara langsung. Namun ia juga harus menyesuaikan waktu dengan pemilik kendaraan yang menawarkan kursinya. Customer juga harus  terlebih dahulu mencari rute yang searah dengannya sebelum melakukan order. Dengan demikian sistem ridesharing lebih berorientasi pada driver atau pemilik kendaraan.

Perbedaan berikutnya adalah penentuan tarif. Dalam konsep ridehailing, tarif ditentukan oleh operator aplikasi yang dihitung berdasarkan jarak tempuh. Kemudian operator akan mengambil margin dari tarif dasar tersebut. Sehingga imbalan yang diterima oleh driver ketika menyelesaikan perjalanannya akan berbeda dengan yang dibayarkan oleh ridernya. Sebaliknya dalam konsep ridesharing, tarif bisa dilakukan berdasarkan hasil kesepakatan driver dengan rider. Namun pada banyak aplikasi ridesharing, driver bisa menentukan sendiri tarif untuk perjalanannya. Tarif yang ditetapkan pun biasanya lebih murah dibandingkan tarif ridehailing. Hal ini karena driver menarik tarif hanya untuk menutupi sebagian biaya perjalanan.

Jika dilihat sekilas, ridehailing dengan ridesharing memang terlihat mirip. Hanya saja, konsep ridesharing terlihat lebih ekonomis dan sudah menjadi budaya di Indonesia yang mengedepankan gotong royong. Konsep ini juga yang menjadi fondasi Tebengan.

Tebengan adalah platform marketplace ridesharing terbaru di Indonesia. Melalui Tebengan, kamu bisa berbagi perjalanan dengan berbagi kursi kosong yang ada dalam kendaraanmu kepada orang lain.

Dengan menggunakan Tebengan, perjalananmu akan menjadi lebih hemat dan menyenangkan dengan cerita - cerita menarik dari Teman Tebengan sepanjang perjalanan. Kenapa bisa lebih hemat? Karena tarif ditentukan oleh pengemudi dengan mengedepankan konsep ridesharing dan kesepakatan dengan penumpang. Jadi, biaya yang kamu keluarkan bisa jauh lebih murah dibandingkan dengan tarif ojek atau taksi online.

Yuk download Tebengan. Cari dan buat perjalananmu di Tebengan. Temukan cerita dan kesempatan menarik lainnya dari Teman Tebenganmu.


Author image
Jakarta Website